Terima Kasih Istriku
24 Juni 2008 10:32
JAKARTA - Hari-hari kerja biasa kita berdua berangkat bersama, kali ini aku hanya mengantarkanmu ke terminal mobil omprengan di depan komplek perumahan kita. Kau cium tanganku sebagai tanda takzim-mu kepadaku, semoga menjadi tanda keikhlasan untuk pergi sendirian ke medan jihad pagi itu. Kerelaanmu untuk berdesak-desakan, kepanasan dan berkeringat serta hilangnya waktu untuk membicarakan topik yang sedang hangat diperbincangkan di radio kesayangan kita, semoga itu juga tidak mengurangi niatmu.
Bukannya aku sedang ingin sendiri istriku. Bukan pula gara-gara kenikmatan yang baru kutemukan ini membuatku lupa padamu. Namun ijinkan aku tak mengantarmu dua-tiga hari dalam satu pekan saja, agar keinginanmu memiliki suami yang bugar, sehat dan tidak kegendutan dapat aku hadirkan. Keridhaanmu sangatlah aku harapkan karena aku tak berani membayangkan azab Allah yang akan menimpaku bila kau tak ridha atas apa yang aku lakukan sekarang.
Sungguh, aku tidak lagi selingkuh. Aku hanya ingin membuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi suami yang engkau harapkan, suami yang tidak ‘memberatkanmu’. Kamu tetap percaya padaku kan?
Terima kasih istriku, demi Zat yang diriku ada di tanganNya, kau tetap tak terbandingkan. Aku jauh lebih mencintaimu daripada sepeda baruku ini…














1 Juli 2008 12:47 at 12:47
Assalammualaikum, mas…..apa kabar?lama ga jumpa….nice header
9 Juli 2008 10:21 at 10:21
duh si akang, terharu euy bacana… kumaha wartosna?
17 Juli 2008 22:08 at 22:08
Anda yang bernama Budi Hernawan ? klo salah lupakan saja. terimakasih
23 Juli 2008 17:46 at 17:46
say aminta maaf id ym yang saya cari id ym budi.hernawan
gak bener ntu orang , thx. sorrry