Kebetulan yang Bukanlah Kebetulan
26 Maret 2008 14:16
JATIBENING – Pagi kemarin saat sedang menuju tempat beraktifitas, telepon Utami berbunyi. Ternyata dari mbak/pengasuh anak-anak di rumah. Ia meminta maaf karena mas kawin/mahar yang aku serahkan saat menikahi Utami hampir 11 tahun yang lalu telah terjatuh dari tempatnya dan pecah kacanya. Sejenak aku marah, menanyakan kepadanya bagaimana bisa bingkai uang itu yang tergantung rapi selama ini kok bisa jatuh dan pecah. Karena Puji, nama pengasuh anak-anak itu, telah meminta maaf dan menyadari kesalahannya, akhirnya dengan perasaan sedikit kesal aku maafkan dan kututup telepon. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, diingatkan oleh Utami untuk mengucapkan kalimah istirja’ itu.
Sorenya, sesampai di rumah aku lihat mas kawin tersebut. Yah, benar, sudah berantakan uangnya. Jumlah uang sebesar Rp. 18.497 yang menyimbolkan tanggal pernikahan kami pada 18 April 1997 sudah berantakan tak karuan. Untungnya, kaca bingkai itu tidaklah pecah. Kaca itu masih sanggup menahan kepingan uang untuk tidak berserakan dan hilang.
Sesaat kemudian, Utami memanggil-manggil namaku. Ada sesuatu yang hendak ia tunjukkan rupanya. Bergegas aku hampiri dan ia pun menunjukkan sebuah halaman pada majalah yang baru saja dibelinya di kantor. Majalah itu adalah majalah Ummi edisi spesial bulan Maret 2008 dan halaman yang ditunjukkannya
adalah rubrik Bahasan Utama yang berjudul Mahar, Bukan Sekedar Cenderamata. Yang mengejutkan kami, ada foto bingkai mas kawin kami yang pecah tadi pagi sebagai foto utama tulisan itu, lengkap dengan alamat blog ini, Subhanallah.
Namun yang sedikit membuatku hampa adalah adanya tulisan yang berbunyi, ‘Apalagi cuma sekedar uang sejumlah 2222 (dengan makna simbolis). Ini sih main-main.‘ mengenai sah tidaknya mahar yang menyimbolkan sesuatu, karena mahar diharapkan tidak sebagai cenderamata atau tanda mata saja. Masya Allah, sepertinya Allah Azza wa Jalla sedang menunjukkan sesuatu kepadaku karena aku meyakini tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah ada yang mengatur dan sebagai manusia kita harus dapat melihat hikmah dari kejadian yang terjadi.
Teman di kantor yang aku ceritakan pun setuju dengan kebetulan yang jelas bukanlah kebetulan ini. Ia malah menyarankan untuk tidak lagi memajang mahar itu. ‘Allah tidak suka itu. Masih mending maharnya yang jatuh, kalau dinding rumahmu bagaimana?‘ ujarnya.
Aku pun dengan agak berat hati mengiyakannya, karena masih mencari maksud Allah dengan kejadian ini. Salah satu jalan untuk segera mendapatkan jawabannya adalah dengan memperbanyak istighfar, memohon ampun kepadaNya bila ada yang salah dari apa-apa tindakan yang tidak kami sadari.















27 Maret 2008 15:02 at 15:02
Jadi Ente manggil Ibunya anak-anak Ente dengan nama sebenarnya nya?
Gak pakai penghormatan sebagaimana layaknya orang Jawa?
Masya Alloh.
27 Maret 2008 16:20 at 16:20
hmm, begitu ya …
28 Maret 2008 6:20 at 6:20
postingan yang bagus
29 Maret 2008 11:19 at 11:19
yang penting bingkai perkawinannya ga pecah bahkan lebih kuat dari bingkai maharnya. sukses selalu mas dan mba!
29 Maret 2008 14:18 at 14:18
mas kawinnya lucu, bagus.
sulit juga kan nyari uang pecahan seperti itu.
kalo aku nanti apa ya?
30 Maret 2008 17:40 at 17:40
Salaam kenal,
Iya benar Mas kawin sebenarnya salah satu fungsinya untuk “tabungan” sang istri yang hak miliknya adalah hak milik penuh sang istri, jaga2 kalo sewaktu2 lasamahalla terjadi sesuatu dengan suami, jadi kalo pecah bingkainya… mungkin juga minta ditambah mas kawinnya
31 Maret 2008 5:13 at 5:13
asyik jg maharnya, cm nilainya jd dikit amat yah, heheh bagus siy tidak memberatkan calon suami.
@achoey
kok jd kang achoey yg mikirin mo ngasih mahar apa, yg harusnya mikirin ya calon isteri sampeyan dong, kan dia yg paling berhak atas mahar. Jadi calon isteri kang achoey yg mikir “mo minta apa ya ama calon suami”
31 Maret 2008 14:04 at 14:04
pak, sy post coment di renovasi rumah, mohon reply nya
ya ?
25 September 2008 16:10 at 16:10
Assalamualikum..
Terima kasih sudah menulis posting ini, merinding saya bacanya, terus terang mahar pernikahan saya pun tadinya dipajang di kamar tidur kami, tapi alhamdulillah sekarang sudah digunakan untuk membantu membayar DP rumah jadi sekarang lebih bermakna dari sekedar cinderamata, awalnya saya kurang mengerti kalau mahar itu harus memiliki nilai guna, alhamdulillah setelah membaca posting ini saya menjadi mengerti. Terima kasih lagi ya