Sedikit Cerita Pulang dari Soe
2 Juni 2007 12:45
JATIBENING – Saudara Yulius, sopir yang menjemput kami dalam perjalanan pulang dari Kota Soe ke Kupang, ternyata banyak memiliki pengalaman tentang tanah ini. Saat terjadi pemisahan Timor Timur dari NKRI, Yulius masih sangat ingat sejarah itu. Ia mengaku menjadi sopir untuk MetroTV dalam peliputan lepasnya propinsi termuda RI tahun 1999 yang lalu.
Sepanjang perjalanan 110 km yang ditempuh dalam dua jam dengan melewati kontur daerah yang naik turun dan berliku -seperti terlihat di image dari google earth di atas-, Yulius dengan bersemangat menceritakan betapa banyak tentara TNI yang sangat kecewa karena ‘kalah perang’. Kalah perang bukan dengan peluru, ujarnya, tapi dengan ujung pena. Saat melintasi kota Oelmasi yang terdapat beberapa barak TNI, Yulius menceritakan betapa tentara yang pulang dari Timor Timur mengekspresikan kekecewaannya dengan memuntahkan peluru ke tanah sambil berteriak-teriak. ‘Mereka marah kepada pemerintah, bukan kepada rakyat Timor.’ kata Yulius.
Meskipun Yulius kadang terlalu bersemangat bercerita tentang TNI, aku malah tertarik dengan banyaknya barak-barak pengungsi Timor Leste di beberapa kota kecil sepanjang Soe-Kupang. Menurut Yulius, pengungsi-pengungsi ini takut kembali ke Timor Leste meskipun presiden Xanana Gusmao telah mengajak mereka kembali ke tanah airnya. Birokrat menjamin kehidupan mereka bila kembali ke Timor Leste namun tidak dengan masyarakat lawan politik mereka saat jajak pendapat dahulu. 
Ya, Timor Leste agaknya terpecah antara masyarakat yang pro integrasi dengan yang pro kemerdekaan. Meskipun mereka telah merdeka 8 tahun yang lalu namun perbedaan ini ternyata masih menimbulkan perpecahan yang memprihatinkan. Mereka saling dendam dan membunuh. Cerita ini klop dengan cerita pendamping kami selama di Soe, bapak Yan, yang menceritakan betapa kasihannya nasib para penduduk yang pro integrasi dengan RI saat ini. Di negaranya mereka saling bermusuhan namun di NTT pemerintah sepertinya menutup mata karena status mereka memang warga negara asing.
Walaupun demikian, pemerintah RI masih memberikan beberapa lahan untuk mereka tempati walaupun kondisi barak/rumah yang ditempati kurang layak menurutku. Yulius menunjukkan ada tiga tempat untuk para pengungsi yaitu di kota Naibonat, Tuapukan dan Noelbaki. Kabar baiknya, setiap 2 minggu sekali para pengungsi mengadakan temu kangen di 3 tempat perbatasan RI-Timor Leste yang mempertemukan mereka dengan keluarga yang memilih menetap di Timor Leste. Acap kali pertemuan itu membuat semacam pasar tiban yang dimanfaatkan juga untuk berbelanja kebutuhan hidup.
Kenyataan masih banyaknya penduduk di Kabupaten Kupang yang hidup di bawah garis kemiskinan juga menarik perhatianku. Sepanjang perjalanan masih banyak terdapat rumah-rumah yang beralaskan tanah. Malah beberapa Lopo, atau rumah beratap rumbia yang dipergunakan untuk tempat penyimpanan makanan, sesekali masih terlihat didiami oleh masyarakat juga. Lopo bahkan bisa di’upgrade‘ menjadi dua tingkat. Biasanya lantai pertama digunakan untuk balai pertemuan keluarga, dan lantai kedua digunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan.
Atap yang terbuat dari daun ilalang yang disusun sedemikian rupa itu bisa menahan panas dan hujan. Yulius menceritakan bagaimana cara menyusunnya namun aku hanya bisa menggumam dan mengiyakan, karena sulit membayangkan bagaimana mereka membuatnya agar tidak hancur oleh panas/hujan dan memakainya dalam hitungan tahun.
Oya, koreksi untuk tulisanku dengan judul Islam di Soe, ternyata sepanjang perjalanan Soe ke Kupang setidaknya terdapat 2 rambu yang menunjukkan adanya masjid. Yang pertama terlihat ada di 38 km dari kota Kupang, yaitu di kota Oelmasi dan yang kedua adalah masjid As-Sholihin yang terdapat di Kupang Tengah. Kalau di Kota Kupang sendiri, banyak terdapat masjid yang besar, seperti terlihat di lingkungan seputar Bank Indonesia Kupang dan Bank Muamalat.
Terakhir, sebelum menuju bandara El Tari, Yulius mengajak kami mampir di suatu tempat yang sering disebut ‘Hollywood’ oleh remaja Kupang. Tempat itu berada di seberang rumah dinas Bupati Kupang dengan pemandangan laut. Ya, disebut Hollywood karena tempat ini berada di dataran tinggi di Kota Kupang, sehingga bisa melihat laut yang berada di bawahnya. Menurut Yulius, pada malam hari pemandangannya jauh lebih indah dan tempat itu lebih ramai dikunjungi masyarakat.
Namun nampaknya tempat itu adalah lahan parkir bagi tamu Bupati sehingga mobil Yulius tidak bisa berlama-lama parkir di tempat itu. Walaupun belum ada yang mengusir kami saat berfoto di daerah itu, kami pun meninggalkan ‘Hollywood’ dan bergegas menuju El Tari untuk kembali ke Jakarta.















2 Juni 2007 15:23 at 15:23
oleh oleh…;)
5 Juni 2007 6:32 at 6:32
aduhhhhhhh saya jadi kangen kampung halaman
saya besar di kota seperti itu, tapi saya senang, karena disana saya bisa kenal orang dari bermacam macam background…
hihih Ingat untuk bawa oleh oleh daging sapi sei..
salam yah!
5 Juni 2007 6:35 at 6:35
Sedikit cerita tentang Timor Timur.
Saya masih ingat tahun itu. pada saat itu banyak orang dari Tim Tim yang mengungsi ke Soe. Kalau bukan di dekat sekolah, di terminal atau di pasar.
Mereka akan menjual apa saja yang mereka miliki untuk bisa bertahan hidup.
Di dekat sekolah kami ada salah satu gudang yang dijadikan tempat pengungsian. Karena mereka berkomunikasi dengan bahasa Tetun atau Portugis, agak susah ngobrol sama mereka. Tapi satu satu kata yang kami pelajari dari mereka adalah “kolega” yang berarti teman. Begitu mereka memanggil kami, dan begitu juga kami memanggil mereka.
hhehehee
5 Juni 2007 6:58 at 6:58
Maaf kalau agak ngejunk, peta kota soe bisa Anda lihat di:
http://wikimapia.org/#y=-9861072&x=124282842&z=18&l=0&m=a&v=2
Saya baru saya add masjid Al Ikhlas disana. Mudah mudahan tidak salah tempat. Saya agak lupa nama nama tempat kota Soe, karena sudah lama tidak pulang.
6 Juni 2007 22:57 at 22:57
Anda menulis:
“waduh, senangnya banyak orang Soe baca tulisan saya. sekarang posisi dimana bung?
daging sapi sei? waah, kayanya enak ya? kemarin di Soe cuma sempat makan ikan dan ayam bakar saja, makanan tradisionalnya gak nemu, hehehe..
trims sudah mampir disini, salam!”
Saya pernah juga mampir situs ini, karena tulisan Anda tentang kota soe beberapa tempo lalu!
———-
Terima kasih bung Adrian! Sungguh menyedihkan para pengungsi itu. Semoga Pemerintah Daerah atau Pusat bisa lebih memperhatikan nasib mereka. By the way, terminal atau pasar yang dimaksud, apakah terminal bis yang di dekat masjid itu?
Sama sama. pasar yang saya maksud adalah “pasar baru”. tepatnya pasar yang akan anda lihat ketika menuju ke Kupang.
sedangkan gudang di dekat sekolah yang mereka tempati, itu memang berada dekat pasar yang terletak di dekat masjid Al Ikhlas.
6 Juni 2007 22:58 at 22:58
ih iya, saya lupa kasih tau posisi saya yah.
Saya sekarang sedang bersekolah di Sydney.
Senang ada orang yang menikmati waktunya di Soe… Maaf yah kalo comment saya kebanyakan
7 Juni 2007 6:58 at 6:58
Terimakasih banyak!

Penerbangan Kupang Darwin memang kurang lebih sejam. Dulu penerbangan Darwin Kupang sempet mandeg, karena kurang orang yang datang. bagus kalau sekarang sudah mulai ada lagi yang datang.
Kupang itu termasuk daerah yang slow pembangunannya. Mungkin kurangnya perhatian dari pemerintah yah? hehehe
Juga, orang orang di Kupang, sama seperti orang orang di daerah lainnya. Dalam arti, begini, orang orang di jakarta suka sok “bule”, sok luar negri biar dibilang modern. Sedangkan Kupang suka sok “jakarta” biar dibilang keren. Bangsa kita kok jadi miskin identitas.
Maaf.. Masjid Al Ikhlas tepatnya ada disini. Itu mesti di geser sedikit lagi. Kalau di zoom out pasti keliatan. Nih saya kasih.. hehe saya agak excited melihat kota soe ada di wikimapia.
http://wikimapia.org/#y=-9858604&x=124289746&z=18&l=0&m=a&v=2
Hehe
Dari Buku Bumi Manusia:
“Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai malu tersipu. Tak perlu lagi orang bertapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang di seberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi. Seluruh dunia kini dapat mengawasi tingkah-laku seseorang. Dan orang dapat mengawasi tingkah-laku seluruh dunia” (Bumi Manusia, p.316).
8 Juni 2007 20:21 at 20:21
[...] senang juga, karena ada orang yang menulis tentang kota ini baca disini dan [...]
26 Juni 2007 0:37 at 0:37
OK’s banget neeh previewnya, jadi pengen maen maen.
salam kenal
9 September 2007 21:45 at 21:45
TEMPAT DI KUPANG MEMANG BANYAK YANG INDAH BAPAK MUNGKIN MASIH HARUS SEKALI LAGI PERGI KE SANA.TEMPAT LAIN YAITU PANTAI LASIANA,PANTAI MANIKIN LALU PANTAI TEDYS KUPANG. tapi saya berterima kasih KARENA BAPAK TELAH MENGUNJUNGI DAERAH SAYA YANG KECIL INI. ATAS KUNJUNGAN DAN PROMOSI DI BLOG INI SAYA UCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH. SEMOGA TUHAN MELINDUNGI BAPAK DAN KELUARGA. KUPANG AKAN SELALU MERINDUKAN KEHADIRAN BAPAK. AMIEN ^^
30 November 2007 15:59 at 15:59
makasi yach uda dapat berkunjung ke kupang?
tapi sayang kupang belum begitu terkenal.
tapi aku yakin pasti suatu saat pasti akan terkenal di mata dinia.
6 Desember 2007 22:43 at 22:43
kupang is the best
6 Desember 2007 22:51 at 22:51
air di kota kupang masih sangat susah dan mulai tercemar….. terutama di daerah oeba… banyak penduduk yang menggunakan air oeba untuk keperluan rumah tangga umtuk memasak sampai memncuci… namun sejak tercemar banyak orang susah mendapatkan air bersih… semoga ada pejabat pemerintah yang membaca ini dan tergugah untuk turut membatu penduduk yang tinggal di seputar air oeba
18 Desember 2007 20:06 at 20:06
waaa….jadi ingat rumah..
31 Desember 2007 9:49 at 9:49
Saya lagi kangen dengan tanah kelahiranku itu.. walaupun baru 4 bulan saya menghilang dari kota itu.
31 Desember 2007 9:55 at 9:55
Dipenghujung 2007 ini, ragaku didesak adrenalin begitu kerasnya..dengan segala kekuatan ku aku mencoba bertahan meski tak tau apakah aku mampu bertahan….So’e…Beta ingin pulang So’e..bulan keempat ini begitu menyiksa..
31 Desember 2007 9:56 at 9:56
So’e……………………………………………dinginmu ku rindu………..
21 Januari 2008 18:10 at 18:10
Lagi jd anak rantauan de jakarta neh… bro de NAD ya..?? Minta no hp dong..!??
2 Mei 2008 10:21 at 10:21
Jadi ingat Kampung halaman ni……………
sekarang bt su di palembang na…..
asl Kefamenanu……………
ADVENA.
1 Juli 2008 14:36 at 14:36
Hicks..sedihnya, sudah 4 tahun gak balik ke Kupang…memang benar kata orang tua-tua “Bae sonde bae, tanah Timor lebeh bae” atau “baik atau nggak, tanah timor memang yang terbaik”
21 Agustus 2008 1:11 at 1:11
jadi ingat wkt kerusuhan timor timur saya masih smp. byk anak2 tim-tim yg mengungsi yg bersekolah di skolah saya…
soe……..pengen pulaang
11 November 2008 19:45 at 19:45
wah ternyata banyak woo yg masuk di ini blog..be kira sadiki sa..ternyata banyak juga na.
kalo cerita Kota SOE, dinginnya seperti Puncak, Lembang.
dan itu terasa sekali waktu musim ujan tiba, diiringi dengan angin.
tapi itulah kota tercinta…pengen makan jagung bose pake daun pepaya..rasanya enak skali di tambah LU’AT dan ikan goreng…ehmm yummy
UIS NENO NOKAN KIT
11 Februari 2009 23:24 at 23:24
we nyadu talalu enak kalau makan jagung a apa lai sekarang musim jagung e……………
we nyadu dong disoe bagi do…..
katang talalu rindu makan jagung muda apalai kalau bakar di tungku dapur hummm pu enak lai….
………………………………
……………………
11 Februari 2009 23:33 at 23:33
menurut saya kota soe adalah kota yang indah dan sejuk apalagi saat sekarang pembangunan dikota soe lumayan maju dan lebik baik dari tahun-tahun sebelum…semoga bapak Paul Mela bisa menjalankan tugas sesuai dengan kemampuan bapak kami anak-anak rantau senyum melihat bapak membangun daerah kita {kota soe}.satu harapan kami ialah “hari ini lebih baik dari hari kemarin”
31 Maret 2009 23:45 at 23:45
selamat berjuang so’e
sudah hampir 3 tahun engkau kutinggalkan, beribu pengalaman tlah engkau berikan, banyak saudara yang membantuku dlm bertugas di Polres TTS sejak 1999 s/d 2007. trima kasih soe.
20 April 2009 13:11 at 13:11
kupang tunggu kehadiran ku……
25 April 2009 10:41 at 10:41
soe……..
umhhh,, kangeeen
walau cuma numpang lahir dan bsr di sana beta tetap sayang ma soe karena talalu banyak kenangan indah di sana..
nyadu donk… besonk dimana smua…
14 Juni 2009 16:41 at 16:41
Terima kasih sudah berkunjung ke SoE dan memberi kesan yang begitu baik tentang Kota itu.
Jika anda berkunjung lagi ke sana cobalah sempatkan untuk ke distric Kolbano dan distric Kapan. Cobalah bermalam di sana dan temukanlah suasana Timor yang sebenarnya dengan keajaiban pemandangan alamnya.
Terima kasih untuk kesan baik Anda pada Kota Kami.
Salam hormat dan Tuhan berkati
25 Juli 2009 21:04 at 21:04
makasih uda menulis tentang SoE,
saya, kami, kita semua orang soe bangga sekali punya kota soe, skalipun kurang dikenal tapi saya, kami yakin apabila ada orang yang mampir di soe pasti merasakan kehangatan senyum serta keramah tamahan warga nya, karena masyarakat soe adalah masyarakat yang majemuk, selalu membuka tangnya bagi siapa saja, kami bangga ssekali sebagai atoin soe, menghargai tamu atau orang lain yang datang ke kota kami sebagai Kase atau Usif karena budaya yang kami pegang teguh ternyata banyak memberikan ceritera bagi mereka yang pernah tinggal atau cuman kebetulan melintasi kota soe,
terima kasih kami warga kota soe, karena melalui tulisan anda mengingatkan mereka yang jauh di sana akan kuan soe,
terima kasih karena melalui tulisan anda kami tau bahwa ada yang melihat kami,
terima kasih karena tulisan anda membangkitkan semangat kami untuk membangun kota soe agar lebih dikenal
a toit makasih ( terima kasih )
salam kena adi telnoni
sma efata soe
jl Jnd, Soedirman no 1 SoE
tlp 0388 – 21863
3 September 2009 13:56 at 13:56
beta ju su rindu pulang timur
3 September 2009 13:58 at 13:58
kota soe tempat yang paling bersi di NTT
6 November 2009 9:48 at 9:48
hmm…bln des nich mau plng kampung jadi nanti lewat so’e,balik januari.ada yg mw titip daging sei ko?