Terapi Bekam
16 April 2007 15:26
JATIBENING – Hasil medical check-up diriku yang kurang baik, dengan diagnosa menderita kencing manis, hypercholesterol ringan, darah tinggi dan overweight membuat istriku agak shock, walaupun hasil ini sudah kami duga sebelumnya.
Alhasil, jadilah ia penceramah baru di rumah; melarang suaminya makan ini itu yang berbau instan, harus giat berolah-raga, kudu rajin minum air putih yang banyak dan banyak lagi peraturan baru lainnya.
Ya, aku maklum, kedua orang tua ku pun tidak berumur panjang walaupun entah itu ada hubungannya atau tidak. Bapak meninggal saat 48 tahun [serangan jantung] dan ibu dua tahun setelahnya [50 tahun karena kanker usus]. Jadi track record kesehatan keluargaku agak kurang baik menurutnya.
Untuk itulah Utami giat mencari informasi pengobatan alternatif, yang insya Allah halal [karena negara ini lagi diterpa isu obat-obatan yang belum terjamin kehalalannya]. Dari Radio Dakta, diperoleh info ada klinik Bengkel Rohani asuhan Ustadz Abu Aqila. Pengobatannya secara syariah dan Islami. Jadilah kami ahad minggu lalu pergi kesana untuk mencoba pengobatan alternatif ini.
Sesampainya di Ruko Niaga Mas Bekasi Timur, pasien yang hadir sudah lumayan banyak. Ada 7 pasien sebelum kami. Kliniknya bersih, sejuk dan nyaman. Setelah menunggu kurang lebih 45 menit, kami pun mendapat giliran masuk. Hari Ahad yang menangani adalah Ustadz Sihan, kakak dari Ustadz Abu Aqila.
Layaknya seorang dokter, ia pun menanyakan keluhan kami. Aku jelaskan hasil medical check-up yang kurang baik itu dan ia pun mulai mengurut pergelangan tangan sampai ke pundakku. Hanya sebentar berada di ruangan itu, ia pun meminta kami ke ruangan bekam.
Di dalam ruangan itu, sudah ada 2 pasien lainnya. Setelah melepas baju, terapi bekam pun dimulai. Cup plastik yang digunakan untuk menghisap darah-darah kotor ditempel di beberapa titik di bagian belakang tubuh. Mulai dari tengkuk, punggung sampai pinggang. Kurang lebih 10 titik kalau tidak salah.
Saat cup itu dihampakan udaranya, bagian tubuh yang ditempeli cup itu pun mulai hangat. Terasa sekali darah mengalir ke atas, berkumpul dan menyebabkan pembengkakan bundar.
Setelah didiamkan selama kurang lebih 15 menit, satu per satu cup dilepas dan mulailah si juru bekam mengeluarkan darah yang dipercayai kotor itu ke luar. Aku tidak tahu persis ia menggunakan alat apa untuk ‘membolongi’ tubuh ini, apakah dengan jarum atau silet. Yang jelas tidak terasa sakit sekali walaupun saat diusap kapas agak terasa perih. Kira-kira 30 menit berlalu, terapi bekam pun selesai. Setelah menebus obat herbal, kami pun pulang.
Di perjalanan pulang kami pun saling bercerita pengalaman barusan. Maklum, pasien laki-laki dan wanita jelas dipisah selama terapi sehingga kami pun tidak tahu pengalaman masing-masing. Karena ini merupakan pengalaman bekam-ku yang kedua, aku tidak terlalu surprise. Lain dengan Utami yang baru kali ini dibekam, kulitnya agaknya lumayan kaget sehingga masih ada satu dua darah yang keluar menempel di bajunya dan membuat lengket serta perih.
Insya Allah aku bertekad untuk menjalani terapi ini secara teratur, mungkin 2 atau 3 minggu sekali. Tentu saja kontrol ke dokter pun wajib di lakukan untuk menganalisa hasil terapi bekam ini secara medis, apakah tensi bisa turun, juga kadar gula darah dan kolesterol. We’ll see!















14 Januari 2009 17:16 at 17:16
Ass.Wr.Wb
Saya tertarik dengan pengobatan Bekam saya tertarik untuk mencobanya segagai sarana ikhtiar saya untuk mennyembuhkan penyakit Diabet saya saya mohon informasinya tentang pengobatan bekam yang ada di bekasi khususnya dibengkel rohani dimana alamat prakteknya No.tlp yang bs dihub. dan berap kira2x biayanya terimakasih atas informasinya
27 November 2010 9:46 at 9:46
Ass.., dimana saya bisa terapi bekam bengkel rohani di Bali? domisaili saya di Bali. trims
17 Februari 2011 19:12 at 19:12
Ass.
Saya blh tahu tmpt lokasi bengkel rohani itu dmana ya tepatnya?kmdian buka hari ap saja dan mulai jam brp?
Utk biayanya brp?klau obat herbal brp?
Maaf saya bru ingin mncoba terapi bekam soalnya,posisi saya ad d cibitung.
wass.