Nikmat Allah Mana Lagi yang Kau Dustakan?

13 Februari 2007 20:17

JAKARTA – Pagi itu aku menaruh mobil ke bengkel resmi di Jalan Sahardjo untuk servis berkala. Dari situ aku harus menumpang kendaraan umum menuju Pulo Mas untuk bekerja. Karena sehari-hari di Jakarta ini aku selalu menggunakan mobil pribadi, saat tiba waktunya menggunakan bis, aku pun bingung. Dari sini naik apa ke Pancoran. Atau ke Manggarai? ‘Duh bingung, mana yang lebih cepat ya? Inilah penyakit orang yang tidak pernah naik kendaraan umum.

‘Hebatnya’, rasa angkuh membuatku malas bertanya. Padahal di halte itu banyak orang yang juga menunggu bis. Satu dua sampai tiga metro mini ke arah Pancoran sudah lewat tapi aku tetap belum beranjak. Akhirnya kuputuskan untuk mencari tumpangan ke arah Manggarai. Aku pun menyeberang jalan, mencegat metro mini ke Manggarai.

Di dalam bis aku menerka-nerka berapa harga karcisnya. Ah, paling gak lebih dari Rp 5.000,- saat kondekturnya meminta uangku. Benar, ia kembalikan Rp 3.000,-. Tak lama aku sampai di terminal bis Manggarai dan tetap saja aku tak mau bertanya walau tidak melihat satupun bis atau metro mini dengan trayek ke Rawamangun, Pulo Mas atau Kelapa Gading.

Akhirnya aku berjalan kaki menyusuri Jl. Tambak dengan harapan ada bis, taksi atau apalah. Tapi tekadku sudah bulat, aku tak mau naik taksi. Lalu aku pun terdampar di stasiun Manggarai. Dari situ akhirnya aku bertanya kepada seorang pejalan kaki dan dijawabnya sebaiknya aku naik bemo lalu turun di Salemba. Hmm, masuk akal, dari situ pasti banyak bis yang menuju Rawamangun. Setelah membayar Rp 2.000 dan turun di Salemba, aku sibuk membaca tulisan trayek yang ada di bis-bis itu. Selintas terlihat trayek Lebak Bulus – Rawamangun. Aku putuskan untuk menumpang bis Patas itu. Ahh, nyaman, ada AC-nya. Hilang sudah keringatku naik kendaraan umum yang sedari tadi kurang manusiawi itu. Jakarta memang kurang ramah dengan pengguna angkutan umum, bathinku.

Saat aku duduk di dalam bis, tiba-tiba kondektur menghampiri penumpang yang duduk di depanku dan bertanya, ‘Bapak mau turun di mana?’. Dijawab oleh penumpang itu ia akan turun di RS Carolus. Seketika kondektur berteriak kepada sopirnya untuk segera berhenti. ‘Mari pak, turun disini, Carolusnya udah kelewatan sedikit. Maaf ya pak’ ujarnya. Aku pun melihat bapak itu turun dengan digandeng si kondektur sambil memegang tongkatnya. Masya Allah, bapak itu ternyata tuna netra. Sendirian pula dia bepergian, subhanallah!

Sesaat bis melaju, aku cuma terpekur. Ya Rabb, betapa Engkau telah mengkaruniaiku dengan segala kesempurnaan tubuh ini namun untuk bepergian dari Tebet ke Rawamangun dengan berkendaraan umum saja aku merasa sengsara sekali. Bila kita tetap diberi nikmat melihat namun baru diberi panas, debu, desing knalpot dan kemacetan sudah mengeluh, bagaimana dengan bapak tuna netra itu tadi, yang mau turun saja harus ada yang memberitahukannya? Seketika aku merasa kecil sekali, malu pada Azza Wa Jalla. Malu karena merasa terlalu banyak nikmat yang lalai aku syukuri.

Terngiang ayat Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani, nikmat Allah manalagi yang engkau dustakan, firman Allah dalam Surah Ar-Rahman yang diulang sampai 31 kali, menambah kecilnya diri ini dihadapanNya. Astaghfirullahi a’dhim wa atubu ilaih.

One Response to “Nikmat Allah Mana Lagi yang Kau Dustakan?”

  1. nova n s Says:

    Assalamualaikum..salam kenal mas oyi dan keluarga..
    tulisan tulisannya banyak mencerahkan..terus berkarya..semoga kita bisa terus belajar utk menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur..

    nova..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 258 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: