Susahnya Merapatkan Shaf
21 Januari 2007 14:59
JATIBENING -Dari sahabat Nu’man bin Basyir berkata, “Rasulullah SAW menghadap ke jamaah shalat lalu bersabda ‘Luruskan shaf-shaf kalian.’ (Beliau menyebutnya sampai tiga kali). ‘Demi Allah sungguh-sungguh kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan benar-benar membuat hati kalian berselisih’”. Maka Nu’man bin Basyir pun melihat seseorang menempelkan bahu orang disebelahnya dan mata kakinya dengan mata kaki orang yang disebelahnya. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita untuk merapatkan shaf saat sholat berjamaah. Kenyataannya, banyak sekali diantara kita yang masih enggan melakukannya. Padahal kalau kita mau melaksanakan perintah itu, terasa sekali kenikmatan dalam melaksanakan sholat secara berjamaah. Rasanya kita mempunyai banyak kawan dalam visi dan misi yang sama saat itu: menjemput ridha Illahi.
Aku jadi ingat saat sholat di Masjidil Haram. Sebelum sholat fardhu dimulai, imam biasa mengulangi perintah untuk merapatkan shaf, biasanya sampai 2 atau tiga kali. Dan sholat di bundaran Ka’bah itulah tempat dimana shaf sangat-sangatlah rapat, saking rapatnya sampai-sampai banyak jamaah yang tidak bisa melakukan ruku’ atau sujud secara sempurna. Mungkin tempat itu memang perkecualian, tapi justru itu yang membuat sholat menjadi sangat nikmat.
Di sini, aku juga ingin mempraktekkan hal tersebut. Tapi sering saat aku merapatkan shaf dengan cara menempelkan bahu kiri atau kanan ke jamaah di samping, lalu aku mensejajarkan tumit dengan tumitnya sehingga kaki bersentuhan, yang sering terjadi adalah jamah tersebut ikut menggeserkan kakinya ke arah yang lebih jauh sehingga upaya merapatkan shaf menjadi gagal. Biasanya, kalau sudah begitu aku pun mafhum, tidak berupaya lagi melakukan hal yang sama pada rakaat berikutnya.
Padahal Rasulullah SAW juga bersabda, “Rapatkan shaf-shaf kalian, saling dekatkan dan luruskan dengan leher-leher kalian. Demi yang jiwaku ada ditanganNya, sesungguhnya aku melihat syaithan masuk ke celah shaf seperti seekor anak domba” (HR Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani).
Merasa mengapa sholat berjamaah kurang khusyu’? Mungkin kita sedang digoda oleh syaithan karena shaf kita kurang rapat. Mulai dari hal terkecil, mulai dari diri kita sendiri dan mulai saat ini ayo kita rapatkan shaf!
Sumber: Ayo Shalat sesuai Tuntunan Rasulullah SAW














23 April 2007 8:12 at 8:12
Ada Suatu Pengalaman dari ana, ketika ana suatu hari shalat shubuh berjamaah dimasjid ana berusaha untuk merapatkan shaf, yang kebetulan disebelah ana itu bapak2 yang maaf dikata berpenampilan layaknya seorang kiyai yang membawa biji tasbih,tapi dasar sibapak2 ini gak tahu sunnah ia malah menjauhi kakinya dari kaki ana,..saking keselnya sehabis shlat shubuh langsung ana ceramahin sibapak itu,”wahai bapak bukankah merpatkan shaf shalat itu adalah sunnah Rasulullah SAW?”Tapi sibapak malah menjawab kasar,”Diam kamu jangan banyak bicara!!!”Astaghfirullah,..sibapak nadanya membentak seolah tidak suka, inilah kebodohan manusia pada umumnya terhadap Sunnah meskipun sudah berlabel kiyai ditengah masyarakt,semoga Allah Menolong orang2 yang dibentak,dihardik dan dibenci karena mendakwahkan sunnah.
11 Mei 2007 20:38 at 20:38
assalamu’alaikum Wr. Wb
ana pun pernah punya pengalaman merapatkan shaf dalam shalat, hal tsb terjadi sekitar 2 hari yg lalu ketika shalat ashar berjamaah di masjid dekat rumah.
waktu itu saya shalat berada di belakang bagian sebelah kiri imam shaf pertama, mulai dari takbiratul ihram saya sudah mencoba merapatkan shaf dgn menempelkan bahu dan kaki ke jamaah yg sebelah kanan saya. rakaat demi rakaat kami lewati dan senti demi senti telah bergeser ke arah kanan sebab memang saya selalu mencoba merapatkan shaf ke kanan kalau2 ada kelonggaran yg saya rasakan,
anehnya tiba2 dlm shalat, saya menyadari kalau seorang jamaah yg di sebelah kiri saya juga ikut merapatkan shaf yg terus bergesar ke arah kanan mengikuti saya, dalam hati saya bersyukur sebab susah payah saya merapatkan shaf ke arah kanan dan jamaah yang kiripun selalu ikut menempel ke saya, sehingga shaf kiri dan kanan saya senantiasa rapat terus hingga habis rakaat shalat ashar.
setelah shalat saya langsung mundur untuk berdzikir sebab shaf yg tadi saya tempati sangat sempit, dan tiba2 saya terkejut melihat, ternyata jamaah lain yang berada di sebelah kiri jamaah yang tadi ada di sebelah kiri saya terputus sekitar 2 jengkal.
rupanya hanya satu orang jamaah saja yang mengikuti saya merapatkan shaf ke kanan yakni pas yg di sebelah kiri saya yg selalu ikut nempel ke saya, dan yang lainnya tidak mau ikut bergeser lantaran sajadah buatan “belgia” yg mereka pake itu gak mau ditinggalkannya…hehehehehe….lucu yah, lebih baik tetap di atas sajadah dari pada menyempurnakan keutamaan shalat mereka.
semoga Allah berkenan membukakan hati mereka atas sunnah rasulullah SAW. Amien.
Jazaakallah
21 September 2007 11:14 at 11:14
wah emang penting banget to rapat dan lurus shaf karena itu shalat sahnya shalat berjamaah, tapi saya bingung dan heran hampir di semua mesjid di depok nih, shalat gak ada yang rapat shaf, dan ibu ibu juga ngebiarin anak-anaknya lompat sana-lompat sini saat shalat berjamaah sedang berlangsung, padahal anak-anak kan harusnya yang perempuan yang kecil2 paling depan, dan yang laki2 anak kecil paling belakang biar suasana mesjid tertib, ini mah kagak, anak umur 3 taon disamping ibunya jadi kalo dia bosan pergi dah, dan shaf jadi bolong2, capek juga ngasi tau terus, dan cuma dijawab dengan sorot mata sebel, apalagi shalat tarawih, ya ALLAH hanya kepadamu tempat mengadu, betapa hancurnya hati hamba ngeliat mesjid di depok brisiknya gak ketulungan apalagi pas shalat tarawih, apakah begini cara orang islam mendidik anak, masalahnya hampir semua mesjid, saya pernah liat di depok timur, depok satu, depok cimanggis, katanya teman saya semua di Jakarta kayak gitu modelnya, kecuali mesjid sunda kelapa, walah akhirnya di bulan ramadhan yang suci ini saya shalat tarawih di rumah aja, dan menangis merindukan kampung halaman saya daripada sakit hati dan jadi ngumpat2, apa sih kerjaan panitia masjid yang jenggotnya panjang2 itu, kerudungnya semata kaki itu.
21 Nopember 2007 20:07 at 20:07
assalamu’alaikum
sabar ya akhi.memang sebagian saudara kita masih belum merapatkan shof ketika sholat berjamaah.jangan bosan memberi mereka ilmu dan pengertian mudah-mudahan mereka akan mengerti.ana memberikan fotocopi atau kalau ada kesempatan bicara maka ana terangkan tentang shof tersebut kepada pengurus masjid dan jama’ah dan sebisa mungkin terus sholat jama’ah di masjid lingkungan kita jika kita ada di rumah.
21 Nopember 2007 20:14 at 20:14
assalamu’alaikum
maaf akhi ane kirim artikel ini banyak2 karena jarang2 ana buka internet.Jazakallohukhoir
Petunjuk seorang Ulama Rabbani tentang jihad
21 Nopember 2007 20:16 at 20:16
assalamu’alaikum
maaf akhi ane kirim artikel ini banyak2 karena jarang2 ana buka internet.Jazakallohukhoir
21 Nopember 2007 20:19 at 20:19
assalamu’alaikum
maaf akhi ane kirim artikel ini banyak2 karena jarang2 ana buka internet.Jazakallohukhoir
HUKUM MENGUCAPKAN SHADAQALLAHUL AZHIM KETIKA SESELSAI MEMBACA AL-QURAN
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
21 Nopember 2007 20:20 at 20:20
assalamu’alaikum
maaf akhi ane kirim artikel ini banyak2 karena jarang2 ana buka internet.Jazakallohukhoir
14 Desember 2007 17:54 at 17:54
assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Akhi Oyi, rohimakumulloh.maaf kalo boleh saran, sungguh kita dapat keberuntungan yang besar kalau selalu memuji Alloh dan bersholawat kepada Rasululloh baik melalui ucapan dan tulisan.sehingga alangkah baiknya penulisan SWT, SAW, AS, ra , ucapan salam tidak disingkat.Insya Alloh hal itu akan lebih bermanfaat dan mudah karena di komputer ada fungsi copy paste atau autocorrect.kalo kita perhatikan kitab2 para ulama mu’tabar tidak ada penulisan singkatan seperti itu.namun kalo nulis di SMS mungkin bisa dimaklumi.wallohu ‘alam.jazakallohukhoir
17 Februari 2008 17:01 at 17:01
assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Coba jika saudaraku shalat berjamaah di masjid yang akan ke pelosok namun tetap di dalam kota Yogyakarta :
1. Setelah adzan bila masuk masjid memang bagus sebelum duduk shalat sunat tahyatul masjid lebih dahulu, namun sayang posisi mereka mengambil tetap di pinggir, apalagi di shaf pertama, mereka agak enggan untuk langsung berdiri di shaf pertama dibelakang imam, entah apa sebabnya.
2. Bila imam telah menempatkan diri, untuk merapat saja malas apalagi untuk menempelkan antara bahu dengan bahu dan antara mata kaki dengan mata kaki saudara disebelahnya.
3. Dalam posisi berdiri, kaki agak direnggangkan melebihi lurusnya tangan disamping kanan dan kiri, sedangkan posisi kaki agak melebar keluar untuk jari kelingking kanan dan kiri, sehingga sulit untuk merapatkan bahu dengan bahu.
4. Kalau yang jadi iman tidak cocok dengan seleranya walaupun iman tersebut benar dalam melaksanakan shalat berjamaahnya, lantas dia menyingkir atau pura-pura menjauh dari imam. Sebaliknya jika yang jadi imam sesuai dengan seleranya walaupun iman tersebut masih salah dalam melaksanakan shalat berjamaah, dia langsung mengambil posisi dibelakang iman dengan merenggangkan posisi kakinya.
Mohon direnungkan keadaan ini
Waassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
15 April 2008 16:11 at 16:11
assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
saya sering kepikiran,bagaimana kalo hal ini di sampaikan ke Menag.Dari Menag,dibuat kalimat baku yang singkat tapi padat isinya mengenai keutamaan sholat berjamaan,merapatkan shof dll.dari sini bs turun jadi keputusan ke daerah2 untuk dibacakan setiap mau sholat.karena selama ini,imam membaca &menganjurkan untuk merapatkan shaf,tanpa menjelaskan teknis singkatnya.jamaah kurang mengerti teknisnya yg rapat itu seperti apa,ada kesan kalau nempel antar jari kelingking mereka enggan dan merasa tdk nyaman.
kemudian,sy curiga karpet yg dibuat selama ini memang di desain untuk menciptakan kerenggangan..
Trims,
Teguh